AcehNet | Medan– Yayasan Konservasi Pesisir Indonesia (YAKOPI) bersama pemerintah provinsi dan pemerintah desa di wilayah kerja menggelar YAKOPI Mangrove Heroes Awards 2026 dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia 2026, Selasa (28/07/2026).
Penghargaan ini diberikan kepada pemerintah desa, kelompok restorasi, dan kelompok pemberdayaan masyarakat yang dinilai berhasil menjaga ekosistem mangrove sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat pesisir.
Mengusung tema “Honoring Conservation, Inspiring Generations, Restoring the Future”, penghargaan tersebut menjangkau empat provinsi, yakni Sumatera Utara, Aceh, Riau, dan Kepulauan Riau. Program ini menjadi bentuk apresiasi atas kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam melestarikan mangrove sebagai benteng alami pesisir sekaligus sumber penghidupan berkelanjutan.
Direktur Eksekutif YAKOPI, Meilinda Suriani Harefa, mengatakan Mangrove Heroes Awards merupakan bentuk penghormatan kepada individu maupun kelompok yang selama ini bekerja tanpa henti menjaga kelestarian mangrove.
“YAKOPI Mangrove Heroes Awards dibangun untuk menghargai orang-orang dan kelompok yang menjaga mangrove melalui kerja sehari-hari. Penghargaan ini bukan sekadar menentukan siapa yang terbaik, tetapi membuka ruang agar praktik baik di desa dapat diakui, dipelajari, dan diperluas melalui dukungan pemerintah serta kolaborasi lintas pihak,” ujarnya.
Tiga Kategori Penghargaan
Penilaian dilakukan dalam tiga kategori, yakni Pendukung Terbaik Versi Pemerintah Desa, Kelompok Restorasi Terbaik, dan Kelompok Pemberdayaan Masyarakat Terbaik. Ketiga kategori tersebut mencerminkan pentingnya sinergi antara kepemimpinan desa, upaya pemulihan ekosistem, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam menjaga kawasan pesisir.
Penerima Penghargaan di Aceh
Untuk wilayah Aceh, kegiatan berlangsung di Desa Ceunamprong, Kabupaten Aceh Jaya, pada 26 Juli 2026.
Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Desa Meunasah Asan menerima penghargaan sebagai Pendukung Terbaik Versi Pemerintah Desa. Sementara Kelompok Tangar Lugu dari Desa Lugu dinobatkan sebagai Kelompok Restorasi Terbaik, dan Kelompok Lumina Food dari Desa Labuhan Bakti meraih penghargaan sebagai Kelompok Pemberdayaan Masyarakat Terbaik.
Kepala Desa Meunasah Asan, Baktiar, mengapresiasi pendampingan yang dilakukan YAKOPI kepada masyarakat.
“Sebagai Kepala Desa Meunasah Asan, saya mengapresiasi YAKOPI yang telah mendampingi masyarakat dalam upaya restorasi mangrove dan pemberdayaan ekonomi. Kolaborasi ini telah memberikan manfaat nyata bagi desa kami,” katanya.
Penghargaan di Tiga Provinsi Lain
Di Sumatera Utara, penghargaan diberikan kepada Pemerintah Desa Hiligawolo sebagai Pendukung Terbaik Versi Pemerintah Desa, Kelompok Bakau Laut dari Desa Pekan Bandar Khalipah sebagai Kelompok Restorasi Terbaik, serta Kelompok Berkah Makmur dari Desa Pasar Rawa sebagai Kelompok Pemberdayaan Masyarakat Terbaik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumatera Utara, Heri W. Marpaung, menyebut penghargaan tersebut sebagai langkah positif dalam mengapresiasi para pejuang konservasi pesisir yang telah berkontribusi melalui berbagai kegiatan restorasi mangrove di sejumlah daerah.
Sementara di Riau, penghargaan diberikan kepada Pemerintah Desa Teluk Pambang, Kelompok KTH Bakau Indah dari Desa Kuala Patah Parang, dan Kelompok Basreng Udang Sepahat dari Desa Sepahat.
Adapun di Kepulauan Riau, penghargaan diterima oleh Pemerintah Desa Sawang Laut, Kelompok Sebayur dari Desa Marok Tua, serta Kelompok Pengudang Mangrove dari Desa Pengudang. Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau, Misni, menegaskan bahwa penanaman mangrove merupakan langkah besar dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan masa depan bumi.

Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat
Menurut Meilinda, keberhasilan restorasi mangrove tidak hanya diukur dari banyaknya bibit yang ditanam, tetapi juga dari ketepatan lokasi, pemeliharaan, penguatan kelembagaan masyarakat, serta dukungan pemerintah dan kebijakan yang berkelanjutan.
Karena itu, keterlibatan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah desa, kelompok masyarakat, akademisi, dunia usaha, media, hingga relawan dinilai menjadi faktor penting dalam memastikan keberhasilan perlindungan kawasan pesisir.
YAKOPI juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra yang telah mendukung program restorasi mangrove di berbagai daerah.
“Atas nama YAKOPI, kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para kepala daerah, jajaran pemerintah, pemerintah desa, serta seluruh masyarakat yang telah menjaga ruang kolaborasi ini. Terima kasih juga kami sampaikan kepada masyarakat di wilayah kerja YAKOPI yang terus menanam, merawat, melindungi, dan memperjuangkan masa depan mangrove Indonesia,” ujar Meilinda.
Siapkan Buku Biografi Mangrove Heroes
Sebagai tindak lanjut dari program ini, YAKOPI akan menyusun Buku Biografi Mangrove Heroes yang memuat kisah perjuangan para penerima penghargaan, tokoh desa, dan kelompok masyarakat dalam menjaga ekosistem mangrove.
Buku tersebut akan mendokumentasikan perjalanan mereka mulai dari proses restorasi, tantangan di lapangan, hingga pembelajaran yang diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah, akademisi, pegiat lingkungan, dan generasi muda.
Melalui Mangrove Heroes Awards 2026, Meilinda berharap penghargaan ini tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi pemicu lahirnya lebih banyak kolaborasi, penguatan kebijakan, regenerasi pegiat konservasi, serta perluasan praktik-praktik terbaik dalam perlindungan mangrove di berbagai wilayah Indonesia.




















