Musim Panen Kopi di Bener Meriah, Petani Dihantui Hujan dan Ancaman Pencurian

AcehNet | REDELONG – Musim panen kopi yang seharusnya menjadi momen penuh harapan bagi para petani, kini justru diwarnai keresahan. Curah hujan yang terus mengguyur wilayah Desa Delung Tue, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, membuat aktivitas panen di kebun semakin sulit dilakukan.

Biji Kopi dalam kebun petani di Bener Meriah | Foto: Acehnet | Asmara Piana

Kondisi cuaca yang tidak menentu menambah kekhawatiran petani terhadap hasil panen mereka. Di tengah hujan yang kerap turun, para petani harus menghadapi dilema antara menjaga keselamatan diri saat menuju kebun atau tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Bagi petani, tidak pergi ke kebun bukanlah pilihan mudah. Sebab, hasil panen kopi merupakan salah satu sumber utama mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di tengah kondisi tersebut, ancaman pencurian buah kopi juga menjadi persoalan yang semakin meresahkan. Saat musim panen tiba, petani justru harus meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga hasil kebun agar tidak dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Ironisnya, pemilik kebun sendiri kini merasa khawatir dan tidak tenang saat meninggalkan kebunnya. Mereka takut buah kopi yang telah dirawat selama berbulan-bulan justru lebih dahulu dipetik orang lain sebelum sempat dipanen.

“Kadang kami juga takut pergi ke kebun karena kondisi cuaca yang tidak menentu. Tetapi kalau tidak ke kebun, bagaimana dengan kebutuhan ekonomi keluarga? Dapur harus tetap berasap,” ujar Dewi, Kamis (5/11/2026).

Seorang petani kopi sedang memetik hasil panen di kebun kopi miliknya | Foto: AcehNet | Asmara Piana

Ia juga mengungkapkan bahwa kekhawatiran petani pada musim panen kali ini bukan hanya persoalan hujan, melainkan juga maraknya pencurian buah kopi.

“Ketakutan kami saat musim panen tiba adalah hasil kopi harus terus dijaga. Sekarang banyak pencurian. Seakan-akan kami yang punya kebun justru merasa takut, karena khawatir buah kopi lebih dahulu dipetik orang lain,” ungkapnya.

Bagi para petani di Desa Delung Tue, musim panen yang semestinya menjadi waktu untuk menikmati hasil kerja keras selama berbulan-bulan, kini justru berubah menjadi masa penuh kecemasan.

Mereka berharap kondisi cuaca segera membaik serta keamanan di kawasan perkebunan lebih diperhatikan. Petani juga berharap adanya kepedulian dan pengawasan dari pihak terkait agar aksi pencurian hasil kebun dapat dicegah.

Sebab, bagi petani kopi, hasil panen bukan sekadar buah dari kebun, melainkan sumber penghidupan dan harapan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Jangan sampai petani yang telah bersusah payah merawat kebunnya justru tidak dapat menikmati hasil jerih payah mereka sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *