AcehNet | Aceh Besar, – Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh menggelar kegiatan Refleksi dan Pemulihan Koalisi Keberagaman yang berfokus pada isu transparansi dan akuntabilitas publik dalam pembangunan di Banda Aceh.
Acara ini berlangsung di Sophie’s Sunset Library, Lhoknga, pada 15 Mei 2025.
Kegiatan ini dihadiri oleh 50 peserta yang berasal dari berbagai elemen masyarakat sipil, aktivis, dan perwakilan komunitas keberagaman. Mereka merupakan bagian dari koalisi yang selama ini aktif mengawal isu tata kelola pemerintahan yang bersih, inklusif, dan berkeadilan.
Acara dibuka dengan sesi permainan interaktif yang dipandu oleh tim PULIH Aceh sebagai bagian dari penguatan team building.
Melalui sesi ini, peserta diajak merefleksikan kembali peran dan dinamika dalam kerja-kerja kolektif mereka, membangun solidaritas, serta belajar menghargai perbedaan dalam menghadapi tantangan bersama.
Diskusi yang berlangsung menjadi ruang reflektif untuk menyampaikan pandangan kritis atas kondisi transparansi dan akuntabilitas publik di Banda Aceh.
Selain itu, forum ini juga dimanfaatkan untuk memetakan tantangan yang dihadapi oleh koalisi keberagaman dalam mengadvokasi pembangunan yang inklusif.
Destika Gilang Lestari dari GeRAK Aceh membuka sesi diskusi dengan mengajak beberapa perwakilan komunitas untuk membagikan pengalaman mereka dalam memperjuangkan kepentingan kelompok rentan yang kerap terpinggirkan dari kebijakan publik. Diskusi berlangsung dinamis, memperkaya narasi kolektif koalisi untuk memperkuat perannya ke depan.
Kegiatan ini juga menjadi upaya untuk menyuarakan isu-isu prioritas yang perlu segera ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Banda Aceh, sebagaimana tertuang dalam kertas kebijakan yang sebelumnya telah disampaikan dalam audiensi bersama Wali Kota Banda Aceh.
Beberapa peserta turut menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka, diantaranya Ade Firma dari KAMu DemRes menyoroti perlunya pendekatan yang lebih manusiawi terhadap kelompok marginal, seperti para peminta-minta di ruang publik. Ia mengusulkan adanya tempat rehabilitasi sebagai solusi berkelanjutan dibandingkan sekadar penangkapan dan pelepasan kembali.
Sementara itu, Kevin Leonardy perwakilan dari komunitas minoritas Kristen, mengangkat isu diskriminasi di lingkungan kampus Islam, khususnya perbedaan perlakuan antara UIN di luar Aceh dan UIN di Aceh. Ia menyoroti sebuah kasus yang menimpa mahasiswa Kristen lulusan program studi perpustakaan.
Selain itu, Erlina Marlina dari Civic Youth Development Coalition (CYDC) menekankan pentingnya pemerataan aksesibilitas dalam pembangunan dan layanan publik di Aceh.
Tak hanya itu Agam Ramadhandari Bentala Aceh mengkritisi kurangnya transparansi dalam proses penerimaan siswa di sekolah negeri, khususnya jenjang SD dan SMP yang berada di bawah kewenangan pemerintah kota.
Kegiatan ditutup dengan pernyataan penutup dari Destika Gilang Lestari selaku Program Officer GeRAK Aceh. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah aktif berpartisipasi dan berharap kehadiran mereka dalam kegiatan lanjutan.
Rencana tindak lanjut akan dilakukan melalui diskusi bersama Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banda Aceh dalam Forum Suara Warga Kota Banda Aceh yang dijadwalkan pada akhir Mei 2025 nantinya.
























