Air Mata Haru di Royal Albert Hall, Ibu dari Pedalaman Pidie Saksikan Putranya Wisuda di Imperial College London

LONDON— Angin sejuk kota London hari itu menjadi saksi sebuah pelukan hangat yang sarat akan air mata haru. Di halaman Royal Albert Hall, sebuah gedung megah bergengsi di Kensington, London, seorang ibu asal Aceh didekap erat oleh putranya, Hafizh Muyassar.

“Terima kasih Mama, telah berjuang dan banyak berkorban untuk Abang,” bisik Hafizh lirih.

Bagi sang ibu, kalimat itu runtuh menjadi air mata bahagia. Sebuah klimaks dari perjalanan panjang, bukan hanya melintasi benua, tetapi perjalanan perjuangan hidup yang dimulai dari sebuah desa kecil di ujung barat Indonesia.

Dari Geumpang Menembus London

Perjalanan epik ini dimulai dari Geumpang, sebuah kecamatan terpencil di ujung Kabupaten Pidie, Aceh. Demi menyaksikan sang putra dinobatkan sebagai lulusan dari Imperial College London kampus yang menduduki peringkat kedua terbaik di dunia versi QS World University Rankings sang ibu rela menempuh perjalanan yang menguras fisik dan emosi.

Tanggal 28 Mei: Menempuh 4 jam perjalanan darat dari Geumpang menuju Banda Aceh untuk beristirahat satu malam.

Tanggal 29 Mei: Terbang dari Banda Aceh menuju Kuala Lumpur dan bermalam di sana.

Tanggal 30 Mei: Melanjutkan penerbangan panjang dengan Royal Brunei Airlines, termasuk harus transit selama 10 jam di Bandar Seri Begawan.

Tanggal 31 Mei (08.30 Waktu London): Kakinya akhirnya menginjak Heathrow International Airport.

“Dengan modal bahasa Inggris yang pas-pasan, Alhamdulillah saya bisa keluar bandara. Begitu keluar, langsung disambut oleh ananda Hafizh,” kenang sang ibu dengan rasa syukur yang membuncah.

Setelah beristirahat sehari pada tanggal 1 Juni sambil memasak makanan kesukaan putranya sebuah ritual melepas rindu seorang ibu hari yang dinanti-nanti pun tiba.

Puncak Tangis Haru di Panggung Dunia

Tanggal 2 Juni menjadi hari bersejarah. Di dalam kemegahan Royal Albert Hall, di antara ribuan mahasiswa dari berbagai belahan dunia, nama “Hafizh Muyassar” menggema.

Mendengar nama anaknya dipanggil, pertahanan sang ibu runtuh. Air mata bahagianya mengalir tanpa bisa dibendung. Rasa tidak percaya, haru, dan bangga bercampur menjadi satu di dadanya. Anak dari pedalaman Pidie kini berdiri sejajar dengan talenta-talenta terbaik dunia.

“Saya tidak bisa membayangkan perasaan saya. Terharu, bangga. Ananda bisa mengenyam pendidikan di kampus terbaik kedua dunia,” ungkapnya dengan suara bergetar.

“Mama yang Berterima Kasih, Nak…”

Momen paling menyentuh justru terjadi usai prosesi wisuda. Di halaman gedung, di tengah riuh rendah kebahagiaan wisudawan lain, Hafizh memeluk ibunya dengan sangat erat dan menyampaikan rasa terima kasih atas seluruh pengorbanan ibunya selama ini.

Namun, dengan ketulusan hati seorang ibu, ia justru membisikkan balasan yang melemahkan hati:”Tidak nak… Mama yang berterima kasih.

Abang telah berjuang mewujudkan impian Mama. Tidak banyak yang bisa Mama berikan, hanya doa yang tak pernah putus Mama panjatkan pada Yang Maha Segalanya agar Allah senantiasa membersamai langkah kalian…”

Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan jarak dan bahasa tidak menjadi penghalang bagi ketulusan doa seorang ibu. Dari sudut kecil di Geumpang, Pidie, sebuah doa telah menembus langit dan mengantarkan seorang anak menjemput mimpinya di London.

“Terima kasih ya Allah, telah Engkau titipkan anak-anak yang luar biasa dalam kehidupan hamba. Dan Engkau berikan jalan untuk mereka mendapatkan akses pendidikan yang terbaik. Masya Allah Tabarakallah,” tutup sang ibu penuh syukur. (Rahmat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru