AcehNet | BANDA ACEH – Pertunjukan musik dan sastra bertajuk “Aceh Penakluk Gelombang Selat Malaka” akan digelar di BTJ Kupi Cabang Lampeuneurut pada Minggu (19/7/2026) Malam.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi para pecinta musik, puisi, dan sastra untuk menikmati pertunjukan bernuansa budaya yang mengajak masyarakat menatap masa depan Aceh melalui potensi strategis Selat Malaka.
Stage Manager pertunjukan, Aluenk, mengatakan dirinya langsung menyambut antusias saat diminta oleh Rafly Kande untuk mengelola pertunjukan tersebut.
“Saya dipanggil oleh Rafly Kande dan diberi tugas untuk me-manage pertunjukan ini. Ketika membaca tema yang diusung, saya langsung tertarik karena konsepnya sangat kuat,” ujarnya.
Menurut Aluenk, Rafly Kande selama ini dikenal konsisten menghadirkan karya-karya yang mengangkat isu sosial, nilai-nilai kemanusiaan, serta identitas keacehan.
“Saya pikir ini konsep yang brilian. Pertunjukan Rafly Kande selalu membawa pesan sosial yang membangkitkan kepedulian terhadap sesama dan sarat dengan nilai-nilai ke-Acehan,” tambahnya.
Tema “Aceh Penakluk Gelombang Selat Malaka” terinspirasi dari sejarah Kesultanan Samudera Pasai pada abad ke-14, ketika Sultan Zainal Abidin Ra-Ubabdar dikenal dengan julukan “Sang Penakluk Gelombang”. Semangat tersebut dinilai relevan untuk membangkitkan kembali optimisme Aceh dalam memanfaatkan posisi strategis Selat Malaka sebagai salah satu jalur pelayaran dan perdagangan internasional yang menghubungkan kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, hingga Eropa.
Di era kemajuan teknologi saat ini, berbagai potensi geografis tersebut semakin mudah diintegrasikan sehingga membuka peluang bagi Aceh untuk berinteraksi dan mengambil peran lebih besar dalam aktivitas ekonomi global yang melintasi Selat Malaka.
Melalui kolaborasi musik, puisi, dan sastra, penyelenggara berharap pesan-pesan yang disampaikan tidak hanya menghibur, tetapi juga mampu menanamkan pemahaman yang mendalam mengenai pentingnya membangun masa depan Aceh dengan memanfaatkan keunggulan geografis, sejarah, dan sumber daya yang dimiliki.
Penyelenggara juga mengusung gagasan bahwa kemajuan Aceh harus bertumpu pada perpaduan Intelligence Allah (IA) sebagai nilai spiritual dan Artificial Intelligence (AI) sebagai representasi kemajuan teknologi.
Owner BTJ Kupi, Rahmat Faijun, menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan pertunjukan tersebut.
“Saat membaca tema pertunjukan ini, saya langsung merasa memiliki gagasannya. Naluri bisnis saya menangkap bahwa semangat dasar yang dibangun dalam konsep ini sangat rasional dan memiliki relevansi dengan masa depan Aceh,” katanya.
Dalam pertunjukan tersebut, Rafly Kande akan tampil bersama para penyair Aceh, yakni Din Saja, Mahdalena (Dek Na), dan Muhammad Rain atau lebih akrap disapa Muhrain
Acara juga akan dipandu oleh seniman Diyus Hanafi, sehingga menghadirkan perpaduan musik, puisi, dan dialog budaya yang diharapkan menjadi ruang refleksi sekaligus inspirasi bagi masyarakat Aceh.




















